Jumat, 5 Juni 2026
28.9 C
Surabaya
More
    LifeStyleSeni BudayaSelama Tahun 2024, Penyair Pulo Lasman Simanjuntak Luncurkan 13 Sajak Terbaik

    Selama Tahun 2024, Penyair Pulo Lasman Simanjuntak Luncurkan 13 Sajak Terbaik

    JAKARTA (WartaTransparansi.com) – Dalam refleksi sastra jelang tutup  akhir tahun 2024 ini Penyair  Pulo Lasman Simanjuntak (63) tetap ‘produktif’ dalam menulis karya puisi atau sajak.

    Sepanjang tahun ini (Januari s/d Desember 2024) sebanyak 20 puisi  (sajak) telah ditulisnya dengan berbagai tematik yang sangat puitik.

    Berikut 13 sajak ditulis Penyair  Pulo Lasman Simanjuntak yang merekam berbagai ‘potret’ kehidupan pergumulan sang penyair.

    Selain itu sorotan tentang pergulatan- yang juga dialami sebagian masyarakat Indonesia -baik di bidang ekonomi makro dan mikro,  sosial, politik, budaya, teologia, dan masih banyak lagi.

    Selamat membaca dan Salam Sastra Indonesia..

    RUMAH PERSUNGUTAN

    -episode kedua-

    rumah batu di tubuh kota

    di dalamnya telah tumbuh sebilah pisau

    untuk memutilasi kesunyian

    keluh kesah

    dari tingkap-tingkap langit

    semoga turun hujan berkat

     

    kini cuaca semakin

    berwajah garang

    turunkan api belerang

    tiap hari hanya ada

    satu suara putus asa :

    bunuh diri !

     

    rumah batu di kulit-kulit kota

    selalu saja menjelma

    jadi ratusan persungutan kekal

    dilontarkan dari atas ranjang

    tanpa ada lagi persetubuhan

    lantaran janinnya selalu kelaparan

    dahaga di padang kering kerontang

     

    rumah batu tanpa jendela hati

    pintunya selalu menuju kematian abadi

    karena di sana telah dihuni

    perempuan molek

    dari tanah het, sidon, dan moab

    selalu tawarkan kemurtadan

     

    jadilah sajakku terjebak

    tanpa mata dan telinga

    hanya terhibur

    pada tiga belas penderitaan

    para rasul

    pasrah ataukah-

    berserah

    pesan pandita

    yang hilang entah kemana

    menunggu setia

    paket malaikat

    dari sorga

    Jakarta, Rabu, 13 Maret 2024

     

    KORUPTOR MATA IBLIS

    koruptor mata iblis

    menatap dan memangsa

    setiap tubuh pemangku jabatan pertanian

    paling memalukan

     

    bahkan dengan rakus dan buas-

    tanpa ampun dan belas kasihan

    dipalak semua pintu

    tak ada daun jendela

    keberingasan luar biasa

     

    karena wajahnya

    makin garang

    disebar mata uang

    sampai ke meja pengadilan

    tanpa takut sedikit pun

    sampai turun ke tali temali

    sumur kematian

     

    malah bau nafasnya

    sampai juga ke dalam larik dan bait sajak

    mengerikan ini

     

    jenggotnya liar merambat

    minta parfum, handphone, tablet, ipad, kacamata, mobil alphard, pin emas, mikrofon, buah durian, gaji buta, rumah dengan beton berlian hingga goyangan penyanyi dangdut tiap malam pentas musik di atas ranjang orang kelaparan

    duh,

    nama siapa mau menyusul

    jadi koruptor mata iblis

    kejahatan di ujung

    akhir zaman

    sudah digenapi kepastian

    Jakarta, Senin, 17 Juni 2024

     

    HARI INI

    hari ini

    menatap matahari pagi

    hatiku semakin perih

    tercambuk sapu lidi

    bergerigi

    tajam

    menusuk bertubi-tubi

     

    sulit tumbuh

    ketika kusebar

    benih berduri

    yang berbuah

    dari kitab suci

     

    hari ini

    nafas tanpa roh kasih

    diuji batu rohani

    berulangkali

    digali sampai mati

     

    musibah sampai terkapar

    jari-jariku cemas

    disiram air keras

     

    padahal hari ini

    sudah tertulis

    dalam lembaran kertas

    hikmat bersama akal budi

    yang rajin kubaca

    dengan kacamata

    kadang tanpa permata

    kebenaran selalu terbang

    mengguncangkan iman

    kesendirian

    Jakarta, Kamis 1 Agustus 2024

     

    PEDANG ROH

    aku mau datang kepada-Mu

    Tuhan semesta alam

    membawa sebilah pedang roh

    di tangan kanan yang terpenggal

    kadang makin sulit penuh pergumulan

    menebang pepohonan

    di gurun kelaparan

     

    bisakah batu penjuru itu

    menolongku jadi roti sajian

    untuk ribuan orang

    nyaris mati kejang

     

    agar mulutku

    yang makin

    rajin menyantap  firman Tuhan

    serta nubuatan akhir zaman

    tak lagi terkapar

    dalam meditasi kesendirian

    Jakarta, Selasa 13 Agustus 2024

     

    RUMAH TANPA AIR MENGALIR

    rumah tanpa air mengalir

    belum juga berakhir

    bahkan kecemasannya

    menjelma jadi sebuah sungai

    yang meluap air kecemasan

    sangat membosankan

     

    dari mana sumber mata airnya, tanyamu

    yang sekian abad sebelum masehi

    tak pernah menyentuh tubuh musim hujan

    kini terkunci sangkar besi

    dipecahkan suara anak dinihari

     

    rumah tanpa air mengalir

    telah disuguhi darah dan senjata

    antara perang timur tengah

    tak berkesudahan

     

    sakit nyeri di telapak kaki kiri

    menunggu jawaban pandita apakah bermata tiga ?

     

    sampai juga  kubaca tadi pagi

    minumlah air kekal, pesan rabi

    di sumur tua samaria

    yang mengalir abadi

    sampai tanah surga

    Jakarta, Minggu 28 Oktober 2024

     

    KOTA TANJUNG PANDAN SUATU PAGI

    kota tanjung pandan suatu pagi

    masih kukejar sisa kantuk kelaparan akut dinihari

     

    ketika sudah turun dari pesawat terbang

    hanya kengerian membaca kisah anak negeri

    terperosok nyanyian nada minor

    di semak belukar kota zaman batu

     

    tercium aroma kopi hitam tanpa matahari

    bersiap menulis air rawa permukiman kumuh

    menyantap sampah dan rebusan eceng gondok

     

    lalu kutemukan sungai-sungai purba di bawah tanah

    yang bermandikan air nuklir

     

    alangkah kaya alam dan hutan di kabupaten belitung

    para nelayan bersuka ria

    mengirim hasil tambang pasir

    ke pelabuhan yang nyaris merapat dengan lautan emas

    milik singapura

    Belitung, Kamis, 26 September 2024

     

    MELEPAS LAUT TANJUNG KELAYANG

    mengauli kepenatan

    pergumulan hidup

    pohon liar rasa pahit

    itu nyanyian tangisanku

    delapan bulan

    ziarah kubur di rumah ibadah

     

    kota-kota sudah terbakar

    tinggal dalam kegelisahan

    dilepas jangkar berkarat

    di pantai  tanjung kelayang

     

    aku langsung menyatu

    dengan seribu akar matahari

     

    seperti ikan terasing

    lalu tenggelam dalam lautan bebatuan

     

    percakapan terbentur di batu iman tegar

    tak sempat disantap burung elang hitam

    pada pagihari

    masih diselimuti ketegangan

    Belitung, Babel, Minggu 29 September 2024

     

    BERGUMUL DENGAN MATAHARI PAGI

    bergumul dengan matahari pagi-

    hari ini

    seperti aku tak lagi mendengar

    penjual lapak menawarkan

    daun-daun hijau

    nyaris rontok

    menimpa pohon-pohon terlantar

    kekeringan

     

    lalu sajakku bersetubuh

    dengan aspal jalan hitam

    yang masuk kompleks permukiman

    diam

    batu-batu bisu

    berterbangan

     

    orang-orang gerak badan

    dalam gua kelahiran

    nyaris berkelahi

    dalam keterasingan

    Jakarta, Oktober 2024

     

    MATA PUISI

    (1)

    menghitung hari-hari

    nyaris buta (cemas !)

    seperti puisiku yang menua

    diselimuti asap kabut

    dari pinggiran kota berawan

     

    terus kususuri menuju

    rumah ibadah

    untuk mukjizat kesembuhan

    di atas mimbar kesucian

     

    membawa juga tubuhmu

    digerogoti ulat-ulat beracun

    dari dalam tanah basah

    airmata terus berdarah

     

    (2)

    sebelum aku merangkul

    pekabaran tiap dinihari

    rajin gerak badan di tikungan jalan

     

    mulutku yang membusuk

    telah menelan rakus

    ribuan potong daging haram

    ratusan ikan dari selokan

     

    bahkan sering disuguhkan minuman biang gula

    dari perkebunan teh yang tumbuh liar

    di sekujur tubuhku

     

    (3)

    maka kuputuskan( tiba-tiba !)

    mata puisi ini

    harus berlari ke rumah duka

    disuntik obat mata dosis tinggi

     

    lalu jadilah aku menjelma

    jadi seorang tukang sihir

    yang tak mampu melihat sinar matahari berdiri

    tegak tiap pagi

     

    (4)

    pada malam ini

    sesudah hujan dan petir bertandang di pekarangan rumah

    gelap gulita

    harus kuselesaikan

    membaca kitab suci

    dengan mata kiri

    menari-nari sendiri

     

    aku harus kuat, pesanmu

    sampai nanti kita bisa bertemu lagi

    di hamparan langit baru

    tanpa ada lagi

    tangisan membuta

    atau penyakit menular

    sudah dimatikan seekor ular

     

    damailah hati ini

    Jakarta, Januari 2024

     

    MENULIS SYAIR UNTUK PRESIDEN

    -episode pertama-

    menulis syair untuk presiden

    aku melihat tingkap-tingkap langit

    terbuka lebar

    seperti percakapan tadi pagi

    di meja kaca

    tanpa daging

    kehilangan pasangan

    tak punya kenangan

     

    kenapa harga pangan

    terus melambung tinggi, tanyamu

    setinggi burung gagak

    terbang ke lumbung kematian

    sangat gersang

    kering kerontang

     

    kenapa nilai mata uang

    tak bisa lagi menari-nari

    bersama matahari pagihari

    menyambut kekusaman hati

    memasuki negeri

    di bawah telapak kaki

     

    menulis syair untuk presidenku

    menatap jutaan manusia langka

    tak punya otak kiri

    minta sedekah

    tangannya berapi

    untuk publikasi sejati

     

    tanah tumpah darah

    di seberang pulau berair

    masihkah ada investor

    menebar benih-benih palsu

    yang tak bisa dihitung

    dengan sempoa atau kucing liar

    dalam karung

    Jakarta, Kamis 1 Februari 2024

     

    MENULIS SYAIR UNTUK PRESIDEN

    -episode dua-

    jika aku jadi presiden

    aku akan melanjutkan

    menulis syair ini

    sambil menghitung jumlah utang negara

    di bawah awan garang

    bahkan angan-angannya

    telah dikorupsikan mencapai delapan puluh triliun rupiah

     

    setelah itu kutelan rakus

    ribuan kilometer

    jaringan jalan tol, kereta api cepat, bendungan tak bisa dijebol, dan mobil listrik yang sering meledak di pinggir jalan protokol

     

    sekarang lihatlah,

    aku sudah jadi presiden

    tak punya janji

    hanya kusodorkan

    perawan berpendidikan

    anak-anak mampu berlarian

    mengejar sejumlah harapan

    tanpa harus jadi pesakitan

     

    karena masa depan

    bukan lagi milik pesyair

    yang rajin menulis syair

    untuk disodorkan

    di pintu gerbang negarawan

    acapkali kebakaran

    uraikan kemacetan di seputar

    bunderan kematian

    Jakarta, Kamis 1 Februari 2024

    PENYAIR BERJALAN TANPA KAKI KIRI

    penyair berjalan tanpa kaki kiri

    menuju poli

    dindingnya saraf-saraf hati

    atapnya terkelupas

    jadi gunung kapur

    usia yang sering kabur

    cahaya makin gelap

     

    sejak pagi tadi

    di lantai pesakitan

    kita mau berdansa

    sejak matahari terbit

    sudah ditebar

    satu setengah abad

    siapa mencari luka

    jatidiri disikat

     

    penyair berjalan tanpa kaki kiri

    sia-sia baca puisi

    saat terapi

    akan berakhir di ranjang operasi

     

    lalu dengan nyanyian amarah

    dibakarnya ruang radiasi

    rumah sakit dengan diagnosa mengerikan

    pedih

    perih

     

    kita harus melarikan diri, pesanmu

    meninggalkan semua catatan medis ini

    antara kecerdasan dan kedegilan

    penyair harus terus berjalan

    tanpa kaki kiri

    Jakarta, Selasa 5 November 2024

    SAJAKKU TERKAPAR DI TELAPAK KAKI KIRI

    (1)

    sajakku terkapar di telapak kaki kiri

    sejak kudaki tubuh laut

    kian tua

    tanpa ombak

    tanpa ikan

    saling terbang

    di dermaga sudut kotamu

     

    lalu mendarat dengan duka cita

    di seberang pulau kecil

    diasingkan

    di atas mercusuar

    tegak berdiri

     

    dengan kidung batu hitam

    ditulis ribuan tahun

    jadi keterasingan diri

    menyatu dengan syair-syair

    milik pujangga tua

    muncul dari bawah

    semenanjung tanah adat

    bangsa melayu

    (2)

    sajakku terkapar di telapak kaki kiri

    di atas bebukitan dingin membeku

    nyaris ditiup angin

    musim cuaca terbakar

    digelar kemah

    pembantaian darah domba

    tanpa suara

     

    usai ibadah

    dengan doa syafaat

    yang bercampur dengan asap dapur

    kenikmatan hari perhentian

    gempa bumi di negeri sendiri

     

    diselesaikan terburu-buru

    dengan baca sepenggal

    kitab suci

    nyanyian harmonika tua

    dari sepasang lelaki

    yang lahir dari rahim permukiman hewan-hewan  liar

    mabuk tiap dinihari 

    (3)

    sajakku terkapar di telapak kaki kiri

    membawa satu tekad

    kesembuhan abadi

     

    dengan terapi

    tulang-tulang ultrason

    tanpa bersalin

    napsu birahi liar

     

    hanya jari-jari tangan

    menari-nari di tubuh sajakku

    aku berteriak kesakitan

    sebab masa mendatang

    tanpa pengharapan

     

    hanya iman makin melelahkan

    berakar dan berbuah

    di rumah ibadah

     

    selalu tersembunyi

    dalam roh

    hati ini

    (4)

    sajakku terkapar di telapak kaki kiri

    ingin menjemput  maut bersinar

    tanpa airmata

    atau suara persungutan

    di padang pasir bangsa kafir

    lalu segera berenang

    dengan nyanyian ramah

    di sebuah kolam kekeringan

    kedua kaki memanjang

    dihitung delapan kali pertemuan

    entah sampai kapan

    Jakarta, Minggu 10 Nov 2024

    BIODATA :

    Pulo Lasman Simanjuntak, dilahirkan di Surabaya 20 Juni 1961. Menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Publisistik (STP/IISIP-Jakarta). Ratusan karya puisinya telah diterbitkan dalam 7 buku antologi puisi tunggal, dan 35 buku antologi puisi bersama para penyair di seluruh Indonesia.Karya puisinya sejak tahun 1980- 2024 telah dimuat di 23 media cetak (koran, suratkabar mingguan, dan majalah) serta dipublish (tayang) pada 223 media online (website) dan majalah digital.

    Puisinya  juga telah dipublikasikan sampai ke negara  mancanegara seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Republik Demokratik Timor Leste, Bangladesh, dan India.Sering diundang membaca puisi di  Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, dan sejumlah tempat komunitas sastra lainnya.

    Bekerja sebagai wartawan dan bermukim di Pamulang, Kota Tangerang Selatan.

    Kontak : 08561827332 (WA)

    Medsos  :

    Facebook  : Bro

    Instagram  : Lasman Simanjuntak

    Tik Tok  : Lasman Simanjuntak

    Youtube : Lasman TV

    COPYRIGHT © 2024 WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan