Sabtu, 18 April 2026
28 C
Surabaya
More
    OpiniTajukHari Ibu (yang terlewatkan), Kemuliaan Sepanjang Masa

    Hari Ibu (yang terlewatkan), Kemuliaan Sepanjang Masa

    “Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu”. (Surat Luqman, ayat 14).

    Kemulian seorang ibu dengan keunggulan kodrati mengandung, melahirkan, dan menyusui sebagaimana ayat di atas, tergambar jelas betapa ibu itu mulia dengan sinar atau cahaya atau nur, bersinar sepanjang masa. Apalagi diperjelas ayat di bawah ini;

    “Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun dia berdoa, “Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sungguh, aku termasuk orang muslim.” (Surat Al Ahqaf, ayat 15).

    Ayat di atas menggambarkan begitu menyeluruh dalam setiap detak kehidupan. Begitu dekat dengan ridlaNya, juga begitu santun memohon ampunanNya. Tetapi Hari Ibu, 22 Desember 2023, tidak begitu agung dalam perayaan dan mengagungkan kemuliaan seorang ibu. Sebagaimana ayat di atas memberikan gambaran sebagai implementasi kehidupan begitu sempurna.

    Berdasarkan Keppres Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-hari Nasional yang Bukan Hari Libur, pemerintah telah meresmikan Hari Ibu menjadi hari nasional.

    Sebagimana diketahui sejarah Hari Ibu merujuk pada Kongres Perempuan Indonesia pertama yang dilaksanakan pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta di sebuah gedung Dalem Joyodipuran milik Raden Tumenggung Joyodipero.

    Kongres Perempuan Indonesia I dihadiri sekitar 30 organisasi wanita yang menyebar di Jawa dan Sumatera. Para perempuan tersebut terinspirasi dari perjuangan wanita era abad ke-19 untuk berjuang melawan para penjajah. Tujuan pengadaan Kongres Perempuan Indonesia I adalah mempersatukan cita-cita dan usaha memajukan wanita Indonesia.

    Selain itu untuk menyambung pertalian antara perkumpulan-perkumpulan wanita Indonesia. Kongres Indonesia Perempuan I melahirkan dua hal besar yang berdampak bagi kehidupan perempuan Indonesia, yaitu:

    1. Muncul hasrat untuk membentuk organisasi yang solid dengan kehadiran “Perserikatan Perempuan Indonesia (PPI)”.

    2. Melahirkan tiga mosi yang merajuk pada kemajuan perempuan, seperti tuntutan penambahan sekolah rendah untuk perempuan, perbaikan aturan dalam pernikahan, perbaikan aturan mengenai dukungan janda dan anak yatim.

    Setelah itu, diadakan kongres lanjutan, yaitu Kongres Perempuan II, III, dan IV. Pada Kongres Perempuan III yang diadakan di Bandung pada 23-27 Juli 1938, mereka membahas mengenai tuntutan persamaan hak dan harga antara pria dan wanita. Persamaan itu juga harus dilandasi oleh kodrat serta kewajiban masing-masing.

    Sebagaimana diketahui, Perayaan Hari Ibu bertujuan untuk menghargai jasa para perempuan atau para ibu secara keseluruhan di Indonesia. Selain itu, peringatan ini juga bermaksud untuk mengingat kembali hari kebangkitan dan persatuan perjuangan kaum perempuan semasa kemerdekaan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini.
    Hari Ibu juga menjadi momentum untuk mengingatkan seluruh bangsa Indonesia bahwa perempuan adalah motor penggerak keberhasilan pembangunan saat ini dan mendatang.

    Hari Ibu 22 Desember 2023, tertutup hiruk pikuk libur sekolah dan (budaya baru) mudik pada saat Nataru (Natal dan Tahun Baru), sehingga kemulian ibu hanya menjadi catatan saja, tanpa peringatan dengan harapan menjadi kekuatan anak bangsa, kembali ke pangkuan ibu untuk kebangkitan seluruh program dan kegiatan menuju Indonesia lebih makmur dan sejahtera. Indonesia lebih berbudi pekerti mulia. Indonesia menjadi Negara Kesatuan Republik lebih baik dengan ibu sebagai perekat meroketkan derajat seluruh rakyat Indonesia.

    Menenun kembali kemuliaan ibu dengan kodrat mengandung, maka sekolah gaib abadi selama 9 bulan 10 hari (lebih kurang), menjadi kontemplasi setiap manusia bahwa ibu adalah pintu kehidupan gaib sebelum terlahir di dunia.

    Mengenang kembali ibu melahirkan, sebuah perpindahan dari alam kandungan (alam gaib) menuju kehidupan alam nyata di dunia fana. Dengan begitu Hari Ibu mengingatkan kembali ketika ibu berjuang melahirkan juga dengan mempertaruhkan jiwa dan raga, bahkan nyawa sekalipun.

    Menyambung tali silaturrahmi dalam berbangsa, bernegara, dan beribadah, maka selama ibu menyusui. Maka kodrat seorang ibu menjadi wakil menyambung kehidupan seorang bayi dengan air susu keibuan begitu tulus ikhlas.

    Kemuliaan ibu mengandung, melahirkan dan menyusui sebuah kodrat wanita suci, sebuah pembelajaran abadi. Sehingga ibu digambarkan telapak kakinya pun tergambar surga abadi. Mari kembali mengabdi kepada ibu (juga bapak, kedua orang). Sebagai pintu mengabdi kepada Ilahi Robbi, juga mengabdi kepada seluruh anak negeri. Karena sesunggunya ibu adalah kemuliaan sepanjang masa. InsyaAllah Hari Ibu, bukan sekedar peringatan pada tanggal 22 Desember setiap tahun. Te

    tapi Hari Ibu akan terbudayakan diperingati setiap hari, bahkan seorang hamba atau anak (ketika) mengabdi setiap waktu. Itulah Hari Ibu. Sungguh mulia !!!. (Djoko Tetuko/BBS)

    COPYRIGHT © 2023 WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan