KUALA LUMPUR, (WartaTransparansi.com) – Menikmati jalan-jalan santai di tengah hiruk pikuk keramaian kawasan Bukit Bintang, Kuala Lumpur, Malaysia, bukan hanya pusat bisnis kelas atas, juga fasilitas serba ada termasuk stasiun Monorel.
Tetapi berbagai suka bangsa berjalan bersama nampak sekali sebuah keramahan dan persaudaraan sejati. Potret persaudaraan berbangsa.
“Ini contoh sangat baik, bahwa hasil pembangunan dapat dinikmati semua lapisan masyarakat dan seluruh bangsa dari mana saja. Ada warga Malaysia, ada warga Arab, ada warga India, ada warga China bahkan dari Uzbekistan dan sejumlah negara kelihatan berbaur di sini,” kata Yunus Yamani, tokoh nasional, asal Surabaya yang hobby mengurusi tenis lapangan.
Situasi dan kondisi di Bukit Bintang dengan salah satu pemandangan antri membeli makanan khas Arabia dan Turki seperti shawarna atau sejenis, juga menikmati suguhan tontonan musik live, memang berbeda dengan berbagai tempat keramaian modern di Indonesia yang sudah mulai memetak metak pengunjung.
Bahkan, Zen Zubaidi dan Yasir Bahanan, memilih duduk di sudut jalan diantara keramaian Bukit Bintang, “Buat apa kalau masuk aquarium lagi, di Surabaya banyak di Mall kayak masuk aquarium. Disini ramai kayak gini mau masuk aquarium lagi,” kata Zen.
Rombongan lain Salim Balahmar, Isa Bahmid, Thoriq Bahanan, Husein BaRiduwan, Aiman Semir, Cholid Ghoromah, M Nabil, dengan dipandu Ahmad Riyadh, gerudak geruduk bersama-sama. Apalagi tuan rumah Datuk Nukman sudah mengatur perjalanan sedemikian rupa.
Tetapi kenikmatan tertinggi adalah ketika menyaksikan dari berbagai bangsa dan negara, seperti menyatu dalam jalan-jalan di Bukit Bintang, di kawasan Menara Kembar. Sekedar menulis sebuah keramaian yang bisa dicontoh di Indonesia bahwa semua pembangunan bukan untuk konsumsi kalangan tertentu. Tetapi menjadi tempat pembauran dan persaudaraan.
Yasir Bahanan mengaku sangat bangga menyaksikan tempat keramaian di Malaysia, “Walaupun Malaysia tidak seperti Indoensia dengan mayoritas muslim, tetapi umat Islam di Malaysia kelihatan di Bukit Bintang dan daerah Menara Kembar ini berbaur dengan warga lain,” katanya.
Potret persaudaraan di Malaysia memang patut menjadi contoh di Indonesia, karena pembangunan “Kota Baru” dan Mall baru di Indonesia kurang dinikmati warga mayoritas. Sementara di Malaysia nampak pembauran dan persaudaraan sangat kuat. (*)